Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2021

CERPEN: SURAT UNTUKMU DI PARIS

Jika mengingat saat-saat kebersamaan kita dulu, rasanya seperti belum lama jarak merentangkan kita hingga sejauh ini. Namun, jika mengingat silam tahun yang membawaku pergi, segera aku tersadar bahwa betapa waktu telah memisahkan kita begitu lama. Dan, sungguh berdosanya aku, karena tak pernah sekali pun memberi kabar kepadamu. Bahkan menghubungimu untuk menyampaikan sepatah-dua patah kata pun, tidak. Padahal sebenarnya, sangat besar keinginanku bisa mendengar lagi suaramu.
    
Aku merindukanmu, itu sudah pasti. Namun bukan itu alasanku menulis surat ini. Aku hanya sangat ingin mengatakan tentang hal-hal yang selalu ingin kukatakan padamu sejak dulu, yang tak pernah bisa kukatakan karena kekhawatiran-kekhawatiran yang kerap mengusikku. Perihal-perihal itu, andai saja aku berhasil mengatakannya sebelum akhirnya kutinggalkan perdebatan panas kita di meja dapur apartemenmu waktu itu, untuk kemudian pergi mengikuti anganku, sungguh aku pasti takkan dihantui rasa bersalah kepadamu. Aku sangat menyesal.
 
Namun, ya, semuanya memang sudah berlalu. Tak ada gunanya lagi aku menyesali semua itu. Dan aku yakin, kau pun pasti telah memaafkanku. Sebab kau adalah kakakku, satu-satunya saudara dan keluargaku. Kau takkan menyimpan dendam padaku hanya karena perdebatan kita itu. Namun begitu, biarkan aku menjelaskan alasanku pergi waktu itu. Agar setidaknya, aku lepas dari rasa bersalah yang menghantui seumur hidupku. 
 
Barangkali kau masih ingat, sewaktu kita kecil dulu, di ruang keluarga apartemen orang tua kita yang hangat, Ibu pernah bercerita tentang sebuah negeri yang ingin sekali ia kunjungi kepada kita berdua. Sebuah negeri, yang selalu dapat membuatnya menjatuhkan air mata setiap kali mengingatnya. Ya, Indonesia. Negeri yang kemudian kau anggap menyimpan sekelumit bahaya untuk kita. Negeri yang akhirnya kutuju, dan membuatku meninggalkanmu, sendirian di Paris. 
 
Apa kau tahu, ketika sepasang mata Ibu tiba-tiba menjadi basah saat menceritakan negeri itu saat pertama kalinya kepada kita itu, aku sebenarnya sudah bisa merasakan bahwa bukan cuma kerinduan untuk negeri itu saja yang Ibu simpan dalam dadanya. Aku bisa merasakan gejolak yang begitu hebat ketika Ibu mengecup ubun-ubun kita bergantian setelah mengakhiri ceritanya. Dan gejolak itu, meskipun ia tutupi karena mengingat usia kita yang memang belum pantas untuk tahu apa penyebabnya, telah membuatku begitu bertekad ingin membawa Ibu ke negeri itu suatu hari nanti. 
 
Aku lantas menyampaikan keinginanku itu pada Ibu beberapa bulan kemudian. Suatu pagi, ketika kau belum pulang dari sekolah, juga di ruang keluarga kita itu, yang kebetulan sedang ada Ayah menonton drama kesayangannya di TV: Arsene Lupin, aku berkata pada Ibu yang tengah sibuk dengan kertas-kertas dan pena: “Bu, aku akan membawa Ibu ke Indonesia jika aku besar nanti. Ibu tunggu saja.”
 
Apa kau tahu apa yang terjadi setelah aku mengatakan itu? Ayah dan Ibu sontak menatapku dengan mata terbelalak, dan mereka kemudian saling pandang sekejap seperti dua orang yang mendadak mendapat kejutan yang tak disangka-sangka. Ayah yang merasa bingung dan segera membatin bahwa Ibulah yang telah membuatku tahu nama negeri itu, kemudian menuntut pertanggungjawaban Ibu. 
 
Kata Ayah dengan nada suara yang terdengar jelas menahan kesal, “kau bilang apa saja pada bocah lelaki kecilku ini? Mengapa dia bicara soal Indonesia?” 
 
Namun bukannya menjawab jujur, Ibu malah tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala, seolah menolak tanggung jawab yang dituntutkan Ayah padanya. 
 
Ayah yang melihatku menantikan jawaban Ibu pun mau tak mau jadi harus menyudahi kesenangannya—berhenti menonton drama yang diadaptasi dari novel karya Maurice Leblanc itu—lalu membawaku ke ruang lukisnya yang jarang sekali bisa kita masuki. Di sana, ia menarikku mendekati meja yang kemudian ia bentangkan selembar kertas nan lebar di atasnya. “Ini adalah peta dunia,” katanya padaku yang memang belum mengenal nama kertas lebar itu dulu. “Di sini, seluruh negeri yang ada di dunia, bisa kita lihat di mana letaknya.”
 
Tentu aku jadi tahu letak dan bentuk pulau-pulau negara Indonesia setelah melihat peta itu. Tapi karena tak bisa membayangkan seberapa jauhnya negeri itu dari Perancis, negara kelahiran kita, maka Ayah pun menjelaskan padaku, bahwa jika ingin sampai ke sana, butuh waktu berhari-hari bila menumpang kapal, dan butuh uang yang banyak bila menumpang pesawat. 
 
Kau tahu, apa yang kupikirkan begitu mendengar penjelasan Ayah itu? Ya, nampaknya aku harus jadi lelaki kaya terlebih dahulu, agar bisa sampai ke negeri itu dengan cepat dan mudah. 
 
Tetapi, bukan itu sebenarnya yang menjadi kejutan bagiku waktu itu. Melainkan mengetahui bahwa Ayah dan Ibu takkan bisa lagi kembali ke negeri itu. Ya, negeri yang ternyata adalah negeri kelahiran mereka. Bisakah kaubayangkan, bagaimana jerinya hati anak yang baru berusia enam tahun, terpaksa harus mendengar tragedi memilukan yang menimpa kedua orang tuanya, yang mana tragedi itulah menjadi penyebab mereka tak bisa kembali ke negeri itu, langsung dari mulut Ayahnya sendiri? Aku sampai mimpi buruk beberapa malam setelah mendengar itu.
 
Aku tahu bahwa kau pun sudah tahu mengenai tragedi itu. Namun begitu, perkenankan aku mengisahkannya kembali dalam surat ini. Semata-mata hanya untuk mengungkapkan gelisah yang kurasakan sejak tragedi itu kuketahui, dan membuatku akhirnya pergi meninggalkanmu dulu. 
 
Jujur saja. Mulanya, aku merasa tragedi yang merundung orang tua kita itu tak ubahnya dongeng belaka. Ayah yang menceritakannya dengan gayanya yang sangat ekspresif, sungguh membuatku terpana jadinya dengan cerita itu, sehingga hampir lupa aku bahwa tragedi itu memang sungguh nyata. 
 
Kata Ayah dalam ceritanya itu: ada tujuh orang jenderal dibunuh di sebuah tempat bernama Lubang Buaya. Aku masih ingat sekali bagaimana sepasang mata Ayah menerawang kenangan pahit yang ia alami setelah tragedi pembunuhan para jenderal itu, sepanjang ia menceritakannya. Ia melanjutkan: ada sebuah kelompok—waktu itu, Ayah tak menyebutnya “Partai” karena mengira aku pasti takkan mengerti dengan kata itu—yang bernama PKI, dituduh sebagai pelaku pembunuhan para jenderal itu. Sehingga orang-orang yang diduga turut menjadi bagian dari kelompok itu, akhirnya diburu hingga ke mana-mana. Begitu dapat, mereka ditahan, disiksa, bahkan sampai ada yang dibunuh.
 
Ayah kemudian terlihat sangat sedih setelah itu, ya, aku masih mengingat raut mukanya. Tapi ia tetap lanjut mengatakan, bahwa betapa sial jadinya dirinya setelah mencuatnya berita kematian tujuh Jenderal itu. Sebab ia yang hanya seorang pelukis dan tak paham sedikit pun soal politik dan ideologi yang hendak ditumpas aparat yang kemudian jadi murka, turut pula diburu, karena kebetulan ia memang tergabung dalam salah satu organisasi yang juga berada dalam kendali PKI waktu itu. Maka demi menghindari perburuan, ia pun memutuskan lari dari kotanya hingga ke beberapa kota di pulau Sumatera dan Kalimantan. Lalu, ketika mendapat celah untuk keluar dari Indonesia, ia terbang ke Belanda untuk menetap di sana hingga beberapa bulan. 
 
Dari Belanda, barulah Ayah berpindah ke Paris, Perancis. Alih-alih ingin mendapatkan suaka sementara setelah berpindah dari Negeri Kincir Angin itu, ia ternyata malah menetapkan hati untuk tinggal selamanya di Paris, lantaran telah jatuh hati pada seorang perempuan yang ternyata sama nelangsanya dengan dirinya. Ya, kau tahu perempuan itu adalah Ibu.

Bertahun-tahun setelah mendengar cerita Ayah di ruang lukis itu, tepatnya ketika telah menginjak sebelas tahun usiaku, pikiranku akhirnya mulai bisa berpikir kritis. Kau tahu? Aku memikirkan lagi cerita Ayah di ruang lukisnya itu dengan membuat penghakiman: bahwa betapa bodoh dan pecundangnya Ayah kita itu. 
 
Kita sama-sama tahu bahwa ia bukanlah orang yang turut serta membunuh para jenderal itu, dan bukan pula termasuk penganut ideologi yang ditumpas aparat setelah tragedi pembunuhan itu. Jangankan menganutnya, kita bahkan tahu betul bahwa ia memang tak mengerti sedikit pun soal itu. Ia hanya mengerti soal kanvas, cat, dan kuas. Jadi, kenapa ia harus lari? 
 
Aku akhirnya menanyakan itu langsung pada Ayah ketika kutemukan satu kesempatan sedang berdua dengannya. Kau tahu apa jawabannya? Dengan raut muka yang nampak ragu, ia berkata, “ada saatnya di mana keberanian dan keyakinanmu terhadap suatu kebenaran lebih baik dikubur dalam-dalam. Terlebih bila yang dihadapi adalah kesalahpahaman yang sedang mendapatkan dukungan suara dan gerakan kelompok mayoritas yang sebenarnya tidak paham betul akar masalahnya, namun terlanjur dibuat berang. Sia-sia saja melawan.
 
Jika kau pernah menanyakan hal yang sama, lalu Ayah menjawab dengan jawaban yang ternyata juga sama seperti itu, kira-kira apa pendapatmu? Apakah kau akan menganggap langkah yang Ayah lakukan adalah hal yang benar, atau justru salah? Sungguh aku ingin sekali sebenarnya mendengar jawabanmu secara langsung.
 
Namun sekiranya boleh aku menebak, kukira kau sepertinya akan menjawab: Ayah telah melakukan hal yang benar. Ya, kau pasti akan mengatakan itu. Benar, kan? Bagaimana mungkin aku tidak tahu. Mengingat bagaimana bersikerasnya kau ingin menggagalkan niatku untuk pergi akhirnya ke Indonesia dulu, tentulah kau akan membenarkan tindakan lelaki jangkung yang tak pernah memarahimu itu. 
 
Lantas, bagaimana dengan Ibu?
 
Aku tak pernah tahu kapan kau mulai tahu derita yang dialami Ibu atas tragedi itu. Namun jika kau ingin tahu kapan aku mengetahuinya, adalah juga saat usiaku masih sebelas tahun. Saat pertanyaan tentang pelarian Ayah mengusik pikiranku. 
 
Seperti halnya Ayah, tuduhan “Komunis” pun melekat pada Ibu, kata Ibu ketika aku mengganggu kesibukannya di dapur. Dan seperti yang kita tahu, Ibu kita yang berparas cantik khas perempuan Asia dan berhati lembut itu selalu mudah menjatuhkan air matanya setiap kali pikirannya terbawa kembali ke kenangan itu. Pipinya sampai kuyup saat menceritakan kisahnya padaku waktu itu. 
 
Di akhir cerita Ibu, aku menemukan dua hal yang membedakan pengalaman Ibu dan Ayah atas tragedi itu. Pertama: Ibu tak lari dari Indonesia, melainkan tak bisa pulang. Kedua: Ibu cukup paham dengan ideologi ciptaan Karl Marx yang juga akhirnya runtuh di Uni Soviet itu, tapi tidak menganutnya sebagai landasan pemikiran-pemikirannya.
 
Pada akhir Juni tahun 1965, Ibu memutuskan berangkat ke Thailand untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang S2. Sebelum masuk semester pertama perkuliahan, ia sempat memutuskan kembali beberapa hari ke Indonesia pada pertengahan bulan Juli untuk mengambil beberapa barang penting miliknya. “Sekaligus ingin bertemu dengan Nenekmu, Mama Ibu, yang masih sering sedih karena baru ditinggal mati suaminya (Kakekmu) setahun sebelumnya. Ibu pulang sekejap agar ia tak tambah sedih,” katanya sambil menatap lekat mataku, sebagai tambahan alasan kepulangannya ke Indonesia waktu itu. Namun malang, setelah keberangkatannya kembali ke Thailand, Ibu sungguh tak pernah bisa kembali lagi ke Indonesia setelah itu. Bahkan ketika Nenek (Ibunya) akhirnya meninggal dunia karena serangan jantung pada pertengahan Oktober 1965, Ibu benar-benar tak bisa pulang walau barang sekejap. Karena tepat pada tanggal 30 September 1965—tanggal meledaknya tragedi itu—keluarganya telah melarang keras ia kembali ke Indonesia. 
 
Keluarga Ibu pun percaya kalau Ibu bukanlah penganut komunisme. Hanya saja, keluarganya melarang keras ia kembali, karena ia adalah wartawan di salah satu media yang loyal pada PKI kala itu. Sebagaimana kabar penangkapan terduga antek dan simpatisan PKI yang beredar luas dan beringas saat itu, sudah cukup membuat keluarganya yakin kalau ia pun akan dianggap sebagai virus berbahaya lantaran pekerjaannya tersebut. 
 
Aku masih ingat apa yang dikatakan Ibu sebagai penegasan bahwa dirinya bukanlah orang yang hidup dalam pemikiran komunis, saat itu. Dengan sedikit tersenyum, ia mengatakan, “hanya karena kau tinggal satu atap dengan sekelompok Muslim, Katholik, Buddha, Hindu, atau Yahudi; bukan berarti kau juga pasti memeluk agama yang sama, kan?! 
 
Sungguh, Aku melihat jelas bara yang marak di mata Ibu setelah mengatakan itu. Bara yang kuduga marak karena mengingat Kakaknya yang hilang kabar tiga minggu setelah berita kematian para jenderal di lubang buaya itu. Kakaknya tersebut, adalah lelaki kedua yang ia sayangi setelah Ayahnya, karena satu-satunya saudara yang ia punya. Katanya: tak ada seorang pun keluarganya yang mengetahui kabar Kakaknya tersebut, bahkan hingga kini. 
 
Tak hanya Kakaknya, beberapa sanak saudara mereka pun ikut ditangkap sebulan setelah Kakaknya itu hilang kabar. Ditangkap karena diduga memiliki kedekatan dengan organisasi atau institusi yang bernaung di bawah PKI. Hanya Nenek dan kerabat-kerabatnya yang telah sepuh sajalah yang tak ditangkap. Namun meski tak ditangkap, hidup para orang tua sepuh itu pun tetap saja jauh dari kata tenang. Lantaran pikiran mereka yang tak henti-hentinya gelisah memikirkan nasib anak dan keluarga mereka yang ditangkap lalu tak jelas entah ke mana rimbanya, dan karena militer pun terus-menerus menyatroni dan mengintai tempat tinggal mereka.
 
Mengetahui keadaan keluarganya sangat menyedihkan, di Thailand, Ibu akhirnya memutuskan menunda perkuliahannya. Dan karena keinginannya pulang ke Indonesia pun ditentang, ia lantas terbang ke Eropa begitu mendapat kabar bahwa seorang kawannya kebetulan sedang berada di sana. Tepatnya, di London, Inggris, ia tinggal beberapa bulan dengan kawannya itu. Baru setelah itu ia pindah ke Paris, Perancis, karena mulai merasa tak nyaman lagi dengan Inggris. Beberapa minggu di Paris, tak jauh dari bundaran Place Charles de Gaulle, dengan senyum yang akhirnya merekah cerah di bibirnya, katanya: ia bertemu dengan Ayah, untuk pertama kalinya.    
 
“Awalnya Ibu tak tertarik menjalin hubungan dengan Ayahmu,” kata Ibu, begitu mulai menceritakan kisah kasih mereka padaku. “Tapi karena melihat kegigihannya mengejar Ibu setelah itu, akhirnya Ibu luluh juga.”

Kau tentu tahu bagaimana leganya aku ketika cerita Ibu akhirnya beralih ke soal romantikanya dengan Ayah kita yang memang rupawan itu. Bibir tipis Ibu tersenyum semakin rekah setiap kali mengingat kegilaan dan perjuangan yang dilakukan lelaki berwajah tirus dan berhidung mancung itu. Ibu memang selalu nampak cantik sekali bila tersenyum, persis sepertimu. Kau beruntung mewarisi senyum Ibu yang indah.

Tetapi, kau juga tahu kan, betapa tak sukanya aku dengan cerita roman? Meskipun kisah yang akhirnya kudengarkan dari mulut Ibu itu adalah kisah cinta orang tuaku sendiri, aku tetap merasa geli mendengarnya. Maka lebih baik tak kuperpanjang kisah itu, karena kau pun tentu sudah tahu bagaimana kedua orang tua kita yang malang itu bertemu lalu memutuskan hidup bersama. Aku ingat, kau pernah bertanya soal kisah kasih mereka langsung kepada Ibu dulu. Kau bertanya saat di ruang keluarga yang kebetulan sedang ada aku, yang akhirnya pergi menjauh karena tak sudi mendengarkan kata-kata Ibu yang pasti akan menggelitik pikiranku.

Maka begitulah, awal dari keputusanku pergi. Bertahun-tahun aku hanya hidup sebagai pemimpi dan penahan gelisah di negeri kelahiran kita. Sangat gelisah, menunggu saat yang tepat untuk dapat segera pergi dan menginjakkan kaki di negeri kelahiran kedua orang tua kita ini, setiap waktu. Dan begitu aku menemukan waktunya, ketika akhirnya Ayah pun pergi menyusul Ibu ke surga, sebulan sebelum aku meninggalkan apartemenmu di musim dingin itu, aku merasa tak perlu berpikir-pikir lagi. Lukisan-lukisan Ayah, dan puisi-puisi Ibu, yang tak pernah lepas memuat segala hal yang mereka rindukan dari negeri yang mereka cintai ini, telah cukup membuatku berpikir selama bertahun-tahun. Bahwa aku harus sampai ke sini. Membawa pulang rindu mereka.

Kakakku, aku tahu kau tak pernah lepas memikirkan dan mencemaskanku. Kau selalu mencaritahu kabarku lewat orang yang juga sering kutanyai soal kabarmu, Tuan Barly. Lelaki tambun yang tinggal di sebelah apatermen Ayah dan Ibu. Ketika lelaki itu memberitahuku tentang kau yang akhirnya menikah dengan lelaki yang telah lama menjadi kekasihmu, aku sangat senang mendengarnya. Sangat senang. Tapi, begitu kudengar pula kabar perceraianmu dengan lelaki itu, tiga tahun setelah pernikahan kalian, betapa hancur pula hatiku di sini. Ingin aku menghubungimu saat itu, untuk turut memberimu kekuatan dan ketabahan, tapi entah kenapa, berat betul rasanya melakukannya.

Benarkah, ia meninggalkanmu lantaran kau tidak bisa memberinya keturunan? Kurasa, justru dialah yang tak bisa membuahi rahimmu sehingga ia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, yang juga pasti kauinginkan.

Tapi, ya, sudahlah. Itu memang tak perlu diingat lagi. Kurasa kau pun pasti bisa segera bangkit dari kesedihan itu, karena aku tahu kau perempuan kuat, seperti Ibu. Dan apalagi, saat kau mendengar kabar pernikahanku tiga tahun setelah berita kesedihanmu itu, kau pasti senang, bukan? Tuan Barly bilang: kau sampai meneteskan air mata karena saking terharunya mendengar kabar pernikahanku.

Aku menikahi seorang perempuan yang memiliki mata bulat nan indah seperti Ibu, seperti kau juga. Ia adalah perempuan yang pertama kali kukenal setelah beberapa minggu aku menginjakkan kaki di negeri ini, di tahun 1999. Aku beruntung, karena pada saat perkenalan kami, ia tanpa ragu mengajakku ikut bergabung berkegiatan dalam lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang hukum, tempatnya mengabdi. Ia tak peduli bahwa aku masih penduduk beridentitas asing dan anak dari sepasang suami istri yang juga tertuduh sebagai antek PKI yang melarikan diri. Ya, begitulah julukan untuk Ayah dan Ibu kita yang kudapatkan dari mulut beberapa orang begitu sampai di sini waktu itu. Tapi, itu tidak masalah. Karena penguasa yang menghadang kepulangan Ayah dan Ibu telah jatuh dari tahtanya setahun sebelum aku menginjakkan kakiku di negeri ini. Jadi, aku tak mendapatkan bahaya seperti yang kaucemaskan.

Maka begitulah, karena jadi seringnya aku bertemu dengan perempuan itu, karena kami bekerja di kantor yang sama, aku jatuh cinta padanya. Syukur, ia pun ternyata cinta padaku. Kami berpacaran tak terlalu lama, dan akhirnya kuputuskan menikahinya tujuh tahun kemudian.

Namun sayang, takdir ternyata tak menginginkan kami menjadi tua bersama. Ia meninggal karena penyakit yang dideritanya saat sepuluh tahun usia pernikahan kami. Jika benar surat ini telah sampai ke tanganmu, berarti kau telah melihat sosok gadis tiga belas tahun yang mewarisi sepenuhnya keindahan yang dimiliki almarhumah istriku itu. Ya, gadis itu putri kami, anak kami satu-satunya. Ia telah lama sekali ingin pergi ke Paris. Ia selalu merengek-rengek padaku dan beralasan ingin menemuimu. Tapi, aku baru bisa membiarkannya pergi, hari ini. Setelah akhirnya aku pun harus pergi menyusul Ibu, Ayah, dan Adik Iparmu, ke surga. Karena sakit yang kuderita beberapa tahun belakangan ini.

Maafkan aku, Kakakku. Telah membuatmu kembali bersedih. Dan aku sangat berterima kasih, karena kau telah memberiku perhatian lebih sejak kepergian Ibu. Aku tak pernah melupakan itu. Jika kau tak keberatan—aku yakin kau pasti takkan keberatan—aku titipkan gadis cantikku itu padamu. Ia tak punya keluarga dekat di sini, karena almarhumah Ibunya pun adalah anak semata wayang mertuaku yang juga sudah lebih dulu tiada. Jadi, aku mohon, sayangilah ia. Ia akan dengan senang hati mengantar dan menemanimu datang ke pusaraku jika kau rindu padaku. Tidak apa-apa, datanglah. Takkan ada bahaya seperti yang kaucemaskan dulu akan menyambutmu di sini. Sebab darahmu, darah kita, darah Indonesia juga.

Rantauprapat, Februari 2019.

Rabu, 09 Januari 2019

Cerpen: Tempatku Bukan Di Sini

Sepertinya, aku mengidap penyakit serius. Mungkin juga berbahaya. Usai diperiksa dokter beberapa menit lalu, raut muka manusia-manusia itu—termasuk manusia yang biasa memberi aku dan dua saudaraku makanan—nampak tak menyenangkan. Aku langsung mereka pindahkan ke dalam kandang jeruji besi berukuran kecil dan sempit ini.

Jika benar begitu, mungkin lebih baik penyakit ini segera saja merenggut nyawaku. Aku sudah tak tahan lagi. Aku tahu manusia-manusia itu takkan ada yang berusaha membuatku sembuh. Mereka akan membiarkanku. Membantuku sekadarnya. Atau kalau pun memang mereka akan berjuang menyembuhkanku, aku rasanya tetap tak begitu senang. Karena hidup di sini juga hanya untuk merasakan pilu belaka.

Tak seperti sekira Sembilan tahun lalu, saat aku masih berusia dua tahun, aku masih hidup dalam pelukan ibuku. Kami makan, tidur, dan berkeliaran bebas di tengah hutan. Tepatnya, di hutan bagian utara pulau Sumatra. 

Pohon-pohon dan hutan sangat mencintai kami. Makanan berlimpah disuguhkan hutan kepada kami karena kami terus membantu. Menyebar biji-biji untuk pertumbuhan pohon dan membuka daun-daun pepohonan yang tumbuh menutupi tubuh hutan dari sinar matahari. Tak banyak penghuni hutan yang dapat melakukan semua itu. Selain kami. Spesies kami: Orangutan.

Namun, manusia—makhluk yang sebenarnya paling bengis dan menjadi ancaman terbesar kami selain Harimau Sumatra—banyak yang serakah dan tak punya belas kasih. Hutan terus mereka gunduli dan menangkap dan membunuh makhluk-makhluk yang dicintai dan mencintai hutan. Termasuk aku dan ibu.

Ah, itu adalah kejadian paling memilukan dalam hidupku. Suatu pagi, ibu kembali ke sarang kami dari mengambil buah Neesia untukku dengan cemas dan ketakutan. Belum sempat aku memakan buah Neesia yang dibawakannya, ibu langsung menggendongku dengan sebelah tangannya untuk keluar dari sarang. Aku bertanya padanya, “apa yang terjadi?” Dengan tingkah terburu-buru, ia langsung menjawab, “kita harus menjauh dari sini, karena ada sekelompok manusia datang menebang pohon-pohon di sekitar sarang kita.” 

Ibu takut pohon tempat sarang kami berada juga akan ikut ditebang. Atau, jika pun tidak ditebang, ibu takut sekelompok manusia penebang itu akan melihat keberadaan kami lalu menangkap kami. Sebab ibu pernah melihat bagaimana ngerinya keluarga Orangutan lain ditangkap oleh sekelompok manusia beberapa tahun sebelum itu. Ditangkap dengan cara yang benar-benar tidak punya belas kasih.

Maka demi menghindari itu, ibu membawaku pergi ke arah entah. Ibu memintaku naik dan berpegangan di punggungnya selama perjalanan melompat dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain untuk mencari tempat aman. Beberapa kali ibu terpaksa menghentikan perjalanan untuk beristirahat dan menghindari intaian Elang Hitam yang terbang melintas di atas kami. Ibu melompat ke pohon yang ranting dan daunnya  lebih lebat agar kami dapat bersembunyi dari si Elang Hitam. Sebab hewan yang satu itu, adalah predator yang juga takkan segan memangsa spesies kami. Ia pasti akan mendekat dan merobek kulit dan daging kami dengan paruh dan cakarnya yang tajam bila kami dilihatnya.

Hingga sore menjelang, ibu barulah menemukan tempat aman buat kami. Aku turun dari punggungnya lalu ia pergi mencari makanan untukku. Sementara aku menikmati makanan, ia kemudian membangun sarang baru, karena malam akan tiba dan kami tak mungkin tak punya tempat berteduh dari dingin malam dan intaian predator lain. Kami aman dan nyaman malam itu, dan hingga malam berikutnya. Namun tidak pada malam berikutnya lagi. Aku didera senyata-nyatanya mimpi paling buruk.

Aku menangis terus semalaman itu dan berharap kejadian yang baru saja menimpaku dan ibu adalah benar-benar mimpi buruk dan aku bisa segera terbangun. Tapi nyatanya tidak. Hingga esok pagi menjelang, aku masih tak percaya bahwa aku telah kehilangan ibu. Ya, ibu hilang secara tragis. Oleh manusia.

Peristiwanya terjadi pada sore sebelumnya. Aku dan ibu keluar sarang untuk mencari makanan. Saat itu, kami baru mengetahui kalau ternyata tak jauh dari sarang kami terdapat sebuah perkebunan kelapa. Kami tentu senang melihat banyak pohon kelapa terhampar di depan mata kami. Apalagi sedang berbuah dan matang pula. Kami merasa punya stok makanan yang berlimpah untuk beberapa hari ke depan.

Namun ketika tak berapa lama kami telah naik ke satu pohon kelapa, dan baru memetik satu buah, satu manusia datang dan berteriak dari bawah. Dari gelagatnya aku bisa melihat kalau manusia itu sedang marah, karena teriakannya yang tak henti-henti sambil mengacungkan sebelah tangan ke arah kami.

Awalnya, aku merasa biasa saja. Apa yang ia katakan dan kenapa ia marah, aku tak peduli karena aku tak tahu. Sampai aku melihat ibu yang berubah ketakutan, barulah aku sadar bahwa kami berada dalam bahaya. Manusia itu pergi beberapa saat lalu kembali lagi dengan bambu panjang yang terpasang celurit di ujungnya dan beberapa manusia. Kami kemudian disorong-sorongnya dengan ujung bambu bercelurit itu. Ibu akhirnya jatuh dan terhempas ke tanah karena celurit itu berhasil membuatnya lemas setelah berkali-kali menusuk dan merobek tubuhnya. Sedang aku, jatuh tanpa segores pun luka. Tubuhku ditampung dengan terpal lebar oleh beberapa teman manusia itu begitu hendak menyentuh tanah.

Sebelum aku dibungkus dengan terpal penampungku, aku sempat melihat ibu yang terkapar di tanah berlumuran darah. Satu manusia menendang tubuhnya untuk memastikan: apakah ia sudah mati atau belum. Aku berharap ibu tak mati. Tapi begitu kulihat kedua matanya yang tertutup, aku segera tahu bahwa harapanku ternyata pupus adanya. Ibu mati di usianya yang baru beberapa minggu menginjak Sembilan tahun.

Sejak itulah, hidup kurasakan hanyalah pilu belaka. Beberapa bulan aku tinggal dalam kandang kayu berukuran kecil di teras rumah manusia yang membunuh ibu. Aku diberinya makanan sisa keluarganya dan hanya sesekali buah-buahan utuh. Jika aku dirasa bau, aku akan diseret keluar kandang dengan tali yang dijeratkan ke leherku, untuk dimandikan dengan air dingin dengan kedua tanganku diikat tali terlebih dahulu. Selama itu tubuhku jadi kurus dan aku sering dilanda sakit, tapi manusia itu sungguh tak pernah peduli. Barang sekali pun.

Sebulan terakhir dalam sekapannya, barulah si pembunuh ibu itu agak lebih perhatian padaku. Tiba-tiba saja. Ia mendatangkan dokter untuk memeriksaku, mencekokiku ramu-ramuan, memberiku buah-buahan segar, dan rutin membersihkan kandangku. Sempat aku merasa aneh melihatnya. Namun belakangan aku tahu bahwa itu semua ia lakukan lantaran ia telah menemukan manusia lain yang mau membeliku. Dari situ aku akhirnya tahu kenapa saat memaksa aku dan ibu turun dari pohon kelapa, si pembunuh itu berusaha untuk tidak melukaiku. Ternyata sejak awal ia telah berniat akan menjualku.

Maka aku sudah nampak lebih sehat ketika manusia yang mau membeliku datang melihat. Bobot tubuhku naik, dan bulu-buluku yang semula banyak rontok telah tumbuh lebat lagi. Si pembeli memandangku dengan cahaya mata cukup girang. Namun tidak denganku. Bahaya lain yang mungkin lebih pilu, kutangkap dari matanya.

Tapi ternyata, firasatku salah. Si pembeliku itu adalah manusia kaya yang memiliki halaman rumah yang sangat luas dan keluarga yang sangat baik. Aku ditempatkan dalam kandung jeruji yang juga cukup luas dengan banyak burung cantik di dalamnya. Ada tanaman-tanaman seperti pepohonan, yang bisa kupanjat dan kegelantungi. Dan buah-buahan segar dan enak juga selalu disediakan untukku setiap pagi. Di sanalah aku kemudian mengenal beberapa buah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Satu manusia kecil yang sangat baik—anak dari si pembeliku—sering memberikanku buah-buahan itu. Buahnya terasa sangat dingin dan berkeringat.

Tapi, tetap saja. Meski betapa bahagianya kurasakan tinggal di situ, itu bukanlah hutan: tempat di mana seharusnya aku tinggal. Aku tetap merindukan ibu, buah Neesia, dan rimba raya yang mengandung begitu banyak rahasia. 

Pernah suatu kali aku menderita diare, setelah hampir dua tahun tinggal menjadi peliharaan si pembeliku itu, badanku lemas sehingga aku lebih banyak tidur. Dalam beberapa kali tidurku, aku bermimpi hutan memanggilku. Suara terdengar sangat sedih. Sungguh mimpi itu terasa begitu nyata. Sampai-sampai, ketika aku merasa telah cukup bertenaga karena sudah agak baikan, aku langsung memberontak ingin keluar dari kandang, untuk pulang kembali ke pelukan hutan. Namun karena tak bisa keluar, aku lantas menghancurkan apa saja yang kulihat di dalam kandang. Tanaman, makanan, dan pernak-pernik yang menghiasi isi kandang, tak ada yang lepas dari amukanku. 

Itulah saat pertama kalinya aku merasa benar-benar kehilangan kendali. Kepalaku rasanya penuh dengan suara rintih panggilan hutan yang tak bisa kupenuhi. Saat setelah entah berapa lama aku mengamuk, aku tiba-tiba merasa lemas kembali karena kurasakan sesuatu menancap di punggungku. Aku pingsan cukup lama, lalu sadar kembali dengan rasa lapar tak tertahankan.

Tiga tahun setelah kejadian itu, setelah hampir lima tahun aku dipelihara si pembeliku, nasib buruk yang lain ternyata kembali menghampiriku. Entah karena apa, aku dijual kembali oleh pembeliku itu, kepada manusia yang membuatku harus berlatih melakukan beberapa permainan dan atraksi yang sangat aneh. Semula, aku tak tahu untuk apa aku melakukannya. Hingga kemudian aku dibawa masuk ke sebuah arena pertunjukan yang penuh dengan tatapan manusia, karena telah mahir melakukan semua permainan dan atraksi yang diajarkan, barulah aku tahu ternyata aku diikutkan dalam satu kelompok sirkus. 

Jadi, di sinilah aku sekarang. Hampir empat tahun sudah, aku ikut dibawa berpindah-pindah kota, dan melakukan apa pun yang diperintahkan sang pawang, sebagaimana yang telah diajarkan padaku, semata-mata demi mendapatkan rasa takjub dan tepuk tangan manusia-manusia yang hadir menyaksikan pertunjukan. Mereka senang dan tak peduli bagaimana hari-hari pedih yang kujalani ketika berada di balik arena pertunjukan. Dan tak peduli, bahwa tempatku sebenarnya bukanlah di sini.


Rantauprapat, Januari 2019.

Selasa, 21 November 2017

Cerpen: Ciuman Pertama

Setelah masuk dan mengucap salam, Bobby langsung melempar tubuhnya--jatuh ke atas salah satu sofa di ruang tamu. Ia tidak lelah, tapi wajahnya nampak kusut. Lebih kusut dari pakaian yang belum sempat digilas panas setrika.

"Bukannya ganti baju, malah tiduran!" Ibunya tiba-tiba datang menghampiri. "Kusut, dong, itu seragamnya. Kan besok masih dipakai lagi. Ganti dulu, sana."

"Iya, ma. Bentar."

Bobby menutup wajahnya dengan sebelah lengannya. Seperti enggan dilihat dan melihat ibunya

Nggak biasanya ini anak begini, batin ibunya.

Ketika sang ibu hendak meninggalkan ruangan itu, ponsel Bobby tiba-tiba berdering. Langkah ibunya jadi tertahan sekejap. Menatap Bobby yang langsung menarik ponsel dari saku celana. Bobby melihat sekejap nama penelepon yang muncul di layar. Bukannya diangkat, Bobby malah mengabaikannya. Ponsel itu ia lempar pelan ke atas meja yang ada di sebelahnya, di depan sofa yang sedang ia tiduri.

"Kok nggak diangkat?" Tanya ibunya yang masih memperhatikan.

"Nggak apa-apa, ma. Males."

"Males?"

Jawaban itu membuat ibunya jadi penasaran. Dengan cepat ibunya kemudian melangkah mendekati meja. Melihat ke ponselnya. Menyelidik, siapa gerangan yang menelepon?

Cindy

"Kamu lagi berantem ya sama Cindy?" Tanya ibunya lagi. Semakin penasaran. Dan mulai menebak-nebak dalam hati.

Namun sayang, bukannya memberi jawaban, Bobby malah diam seribu bahasa. Lalu, dengan wajahnya yang terlihat kesal, ia langsung mengangkat tubuhnya beranjak dari sofa. Mengambil tas sekolahnya dan ponselnya, lalu pergi meninggalkan ibunya yang menatapnya heran. Masuk ke kamar.

Dasar remaja, ucap ibunya kemudian dalam hati, sambil menghela napas dan bergeleng kecil.

Di kamar, Bobby hanya melepas kemeja seragamnya, lalu rebahan lagi di atas kasur. Ia terpaku menatap langit-langit kamar. Namun tatapan itu kosong. Ia memikirkan lagi, sesuatu yang telah membuat mukanya jadi kusut dan terlihat agak kesal.

Kemarin, seperti biasa, ia mengantar Cindy (teman sekelas sekaligus kekasih hatinya) pulang terlebih dulu naik sepeda motornya, setelah itu barulah ia pulang ke rumahnya. Tapi, kemarin itu, ketika baru sampai di depan pagar rumah Cindy, ia tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil. Ia meminta ijin pada Cindy agar diperbolehkan memakai WC sebentar. Cindy dengan senang hati mengantarnya.

Setelah menunjukkan letak WC di dalam rumahnya, Cindy bergegas mengganti pakaian ke kamar. Selagi Bobby di WC, pikirnya.

Namun ternyata Bobby selesai lebih dulu. Keluar dari WC ia langsung memanggil Cindy beberapa kali. Sambil melirik ke beberapa ruangan tak berpintu di dalam rumah itu. Mungkin setelah lima atau enam kali memanggil, barulah Cindy menyaut. Berteriak dari dalam kamarnya. Meminta Bobby menunggu dulu di ruang tamu.

Baru beberapa detik menunggu di ruang tamu, Bobby sontak terperanga melihat Cindy keluar dari balik tembok ruangan sebelah, sudah mengenakan pakaian yang tak pernah dilihatnya selama dua tahun mereka berteman di SMA dan delapan bulan berpacaran. Luarbiasa, pikirnya. Dada serasa mau meledak. Ia deg-degan dan agak panik.

"Ayang kok liatnya gitu sih?!" Tanya Cindy setelah duduk di sebelah Bobby.

Bobby tersenyum kaku. Menelan liur, dan bertingkah kebingungan. Ia mencoba memulihkan kesadarannya yang kacau dibikin penampilan kekasihnya itu.

"Nggak, nggak apa-apa, kok. Aku pangling."

"Pangling?"

"Iya. Ayang cantik banget."

Meski sama-sama tahu, Cindy tidak sedang dalam riasan makeup. Kata "cantik" jelas bukan kata yang tepat untuk memuji penampilannya. Karena yang sedang menjadi pusat perhatian Bobby bukanlah wajahnya. Melainkan kulit putih dan mulus yang terpampang di leher, dada, lengan, paha, dan betisnya. Harusnya kata yang lebih tepat adalah, seksi atau menggoda. Tapi karena pertanyaan Cindy membutuhkan jawaban, mungkin spontanitas pikiran Bobby menganggap dua kata itu terlalu frontal jika diucapkan pada kekasihnya itu. Ia akan dianggap buruk. Maka kata "cantik", agaknya lebih tepat, pikirnya.

"Gomballll..."

Cindy mendorong sebelah bahu Bobby dengan sebelah sikunya. Bobby hampir tumbang. Benar-benar tak kuat menahan dorongan itu dan godaan penampilan Cindy yang hanya memakai celana jeans ketat dan pendek. Yang pendeknya hampir mendekati selangkangan. Dan baju kaos ketat yang lengannya hampir tak ada dan kerahnya yang lebar memampangkan dada. Yang panjangnya membuat kulit putih perut Cindy agak terlihat.

Benar-benar petaka yang nikmat, pikir Bobby tak henti-henti.

"Ya udah, Ayang mau langsung balik, kan?" Tanya Cindy.

"Mmm..." Bobby melihat jam tangannya. "Entar dulu deh."

"Bagus deh kalo gitu. Aku jadi ada temennya." Cindy bertingkah manja. Dan senyum kegirangan.

"Emang, adik Ayang ke mana?" Tanya Bobby.

"Sepulang sekolah biasanya dia ke rumah tanteku dulu, di dekat sekolahannya. Jam setengah tiga atau jam tiga baru dia pulang ke rumah."

"Mmm." Bobby mengangguk. "Terus, papa sama mama?"

"Kalo mama biasanya sore udah pulang. Tapi kalau papa seringnya agak maleman."

Untuk sekejap, aman, pikir Bobby kemudian. Tanpa diundang sebuah keinginan yang tak pernah ia inginkan sebelumnya tiba-tiba datang. Memberontak di dalam kepalanya. Ayo cepat, langsung saja, sikat boss... begitu kata keinginan itu kira-kira.

Hubungan mereka yang biasanya tak jauh-jauh dari jalan ke kafe dan bioskop, cokelat dan es krim, seketika melangkah terlalu jauh.

Sejurus--dua jurus gombalan yang terkesan memaksa, kemudian dilontarkan Bobby untuk Cindy. Meski berkali-kali Cindy merasa agak mual mendengarnya, Bobby tetap tak patah arang. Tak peduli. Terus saja mengatakannya.

Setelah menggeser tubuhnya mendekati Cindy, Bobby akhirnya mendaratkan bibirnya tepat di tempat yang sudah ia incar-incar: bibir tipis dan merah muda kekasihnya yang cantik itu.

Dalam gebuan nafsu sang kekasih, Cindy nampak seperti benar-benar menikmati. Ia larut dan hanyut. Tapi kadang, ia terlihat agak pasrah. Matanya enggan terbuka.

Setelah beberapa menit berlangsung, ciuman itu akhirnya terhenti. Cindy merasakan ada sesuatu yang mendorong dari dalam dirinya. Ia tiba-tiba jadi takut. Dengan sangat tergesa-gesa ia kemudian meminta Bobby segera pulang.

Keesokanharinya, ketika mengantar Cindy pulang tadi tepatnya, setelah Cindy turun dari sepeda motor lalu berdiri di sebelah Bobby yang tetap duduk di atas sepeda motor, entah kenapa Bobby tiba-tiba membuka pembicaraan tentang ciuman yang mereka lakukan kemarin itu.

"Ciuman kemarin asik, ya?!" Ucap Bobby sambil cengar-cengir.

"Apaan sih, Yang?!" Cindy cemberut manja. Menggemaskan. "Nggak lagi-lagi pokoknya."

"Yah, kok gitu?"

"Iya, nanti Ayang jadi nakal."

Bobby tersenyum. Ia tidak merasa cemas dengan jawaban itu. Ia yakin Cindy tidak serius dengan perkataannya. Dan sangat yakin, Cindy pasti masih akan memberikan ciumannya lagi. Suatu saat nanti. Di kesempatan yang lain.

"Tapi jujur, itu bener-bener ciuman pertamaku lho, Yang." Kata Bobby dengan wajah serius.

"Iya, iya, kamu udah bilang semalem di telepon."

Bobby menyeringai lagi. "Kalo ayang? Itu ciuman pertama juga, kan?"

"Mmm... ketiga."

Badan Bobby lunglai mendengarnya. "Ah, ayang... serius, dong."

"Iya, beneran, ketiga." Wajah Cindy berubah serius.

"Kamu bercanda, deh!"

"Loh, gimana sih?! Dibilang beneran, ketiga."

Mereka tiba-tiba jadi terdiam. Beberapa detik hanya saling tatap. Raut wajah keduanya pun nampak sama seriusnya. Tapi Bobby tetap masih kurang yakin dengan jawaban gadis itu. Ia menunggu jawaban yang sebenarnya. Tapi kemudian, ia malah kesal karena Cindy terlihat seperti mempermainkannya. Tetap diam, tak mau menjawab jujur. Ia lalu melepaskan tatapannya dari wajah Cindy dan menyalakan kembali mesin sepeda motornya.

"Loh, loh, Yang, kok pergi? Tunggu dulu, aku bercanda. Ayang salah paham, biar kujelasin lagi." Cindy menarik sebelah tangan Bobby. Berusaha menahannya agar tidak pergi.

"Awas!!" Terlambat. Bobby benar-benar kesal. Ia melepaskan paksa tangan Cindy, dengan kasar.

Cindy terpaksa membiarkan Bobby pergi dengan marahnya yang ia pikir cukup beralasan. Ia lalu berjalan masuk ke rumah sambil menatap ponselnya yang cepat-cepat ia tarik dari dalam tasnya. Ia menghubungi nomor telepon Bobby. Tapi sia-sia saja. Jelas tidak akan diangkat. Sebab Bobby baru saja pergi, dan sudah pasti masih di jalan. Ia pun jadi takut.

Di kamar, Bobby masih asyik merenung. Memikirkan lagi semua itu. Terkadang ia merasa agak bersalah. Namun terkadang lagi, ia merasa benar. Bimbang. Ia kemudian meraih ponselnya yang ia taruh tak jauh di sebelah tubuhnya. Ditatapnya ponsel itu. Pemberitahuan di layar langsung membuatnya agak terkejut. 15 panggilan tak terjawab, dan 7 pesan WhatsApp dari Cindy, belum terbaca. Ponsel itu tak terdengar berdering karena ia telah mengubah silent mode sebelum masuk ke kamar, tadi.

Plis, angkat telponku.
Ayang, angkat, dong.
Aku bakal jelasin kalau ayang angkat telponku.
Ayang salah paham tauuu..
Plis angkat, dong.
Ayaaaaanggg.... angkaaaattt.
Ya sudah, terserah, deh..

Pesan WhatApp Cindy yang terakhir langsung membuat rasa bersalahnya jadi lebih besar. Kata "terserah" terasa seperti petaka paling buruk baginya. Ia langsung membalas pesan kekasihnya itu.

Kamu bohongi aku. Ngomongnya baru pacaran sama aku, tapi kok ciuman udah tiga kali? Kamu ciuman sama siapa sebelumnya?

Pertanyaan Bobby hanya dibaca oleh Cindy. Tapi, setelah itu layar ponsel Bobby tiba-tiba jadi redup-terang. Cindy memanggil.

"Ayang tu kebiasaan, deh. Main marah-marah aja. Main ngambek-ngambek aja. Harusnya dengerin dulu." Cindy langsung mencerocos setelah teleponnya diangkat.

"Ya udah, buruan, jelasin." Kata Bobby ketus.

"Ciuman pertama, sama laki-laki berkumis kesayangan aku."

"Nah, kan, malah becanda."

"iihhh.. apaan sih, siapa yang becanda? "

"Kamu kencan sama Om-Om?"

"Enak aja! Laki-laki itu papaku, tau..."

"Papa kamu?"

"Iya. Dulu, waktu aku kecil sampe SD kelas 5, aku sering cium bibir sama papaku. Biasanya kalo pas diantar ke sekolah, ciuman dulu. Tapi setelah aku kelas 6 aku nggak mau lagi. Soalnya papaku kumisnya tambah tebal. Aku gelik."

"Hahaha..." Bobby tertawa terpingkal-pingkal. "Terus yang kedua pasti mama kamu?"

"Haha, iya. Mamaku yang kedua. Tapi aku nggak tau juga, sih. Mungkin mamaku yang pertama. Nyiumnya pas aku bayi. Papaku yang kedua. Soalnya, seingatku dulu mamaku memang nggak mau cium bibirku. Aku yang suka maksain dia buat ciuman sama aku. Katanya, napasku bau."

"Hahaha.." Bobby kembali terbahak-bahak. "Iya, Yang. Napas kamu emang bau. Kemarin juga bau. Tapi nggak apa-apa, enak kok."

"Oh, gitu. Oke fine. Awas ya kalo nyium-nyium lagi."

"Eh, nggak, Yang. Nggak. Becanda." 

Rabu, 28 Desember 2016

Cerpen: Kucing Bertanduk

Sumber Gambar: 1freewallpapers.com


“Kau sakit ya?”.

“Tidak”. Aku menatapnya bingung.

“Berarti kau sedang kerasukan”.

Roma menertawakanku. Aku tahu dia sedang berusaha menggugah kebisuanku. Tapi aku tak peduli, aku mengacuhkannya. Dia baru saja berpindah dari meja tempat teman-teman kami yang lain berkumpul, ke tempat duduk di depan meja yang kupakai sendirian. Aku sengaja memisahkan diri dari yang lainnya.

“Setan mana yang merasukimu hari ini, hhaa? Kau terlihat seperti bukan Tohir yang biasanya?”. Dia masih tertawa.

“Kupikir kau lebih baik diam saja”.

Beberapa jam yang lalu Roma dan teman-temanku membawaku ke tempat ini. Salah satu tempat tongkrongan favorite anak-anak remaja di kota kecil ini. Tempat ini berada tepat di tepi sebuah jalan, jalan yang dikhususkan untuk truk dan bus besar yang dilarang masuk dan melintasi jalanan dalam kota. Pangkal dan ujung jalan ini adalah perbatasan kota. Orang-orang menyebut jalan ini, Jalan Baru.

Sore ini, kami baru saja selesai jalan-jalan, mengitari beberapa jalanan kota dengan sepeda motor. Di kota ini, jalan-jalan sore sudah hampir menjadi sebuah tradisi yang dilakukan banyak orang setiap harinya. Setiap sore pasti banyak sekali orang-orang berhamburan di jalanan dengan macam-macam kendaraan. Terutama mereka para remaja.

Ada sebuah pemikiran yang aneh dengan tradisi jalan-jalan sore di kota ini, dan pemikiran itu hanya berkembang di kalangan remaja saja. Tingkat kegaulan atau kepopuleran seorang remaja akan dilihat melalui jalan-jalan sore. Yaitu dengan melihat: seberapa sering dia terlihat jalan-jalan sore, seberapa banyak temannya jalan-jalan sore, dan yang terakhir, kendaraan apa yang dia gunakan saat jalan-jalan sore. Itu menjadi penting sekali, disini. Maka, dapat dipastikan kalau seorang remaja setiap harinya atau setiap sorenya hanya berkutat dengan lingkungan rumah atau komplek perumahannya saja, pasti dia akan dikatakan sebagai remaja yang tidak gaul atau populer. Meskipun di sekolahnya atau di kelasnya, dan di lingkungan rumahnya, dia adalah seorang anak yang paling cantik atau ganteng.

Hanya ada beberapa rute jalan saja yang selalu dilintasi orang-orang untuk jalan-jalan sore. Salah satu jalan itu adalah jalan baru ini. Entah apa pastinya yang membuat jalan ini menjadi begitu favorite untuk dilintasi saat jalan-jalan sore. Aku hanya menebak beberapa alasan penyebabnya, yaitu karena adanya tempat-tempat yang dapat dijadikan tempat nongkrong beramai-ramai, seperti: pondok-pondok yang berjualan es kelapa muda dan ruko-ruko di tepi jalan yang dibiarkan tak berpenghuni (terlantar). Sebenarnya ruko-ruko di jalan itu dibangun tidak untuk ditelantarkan pemiliknya. Mereka sengaja membangun ruko ditempat itu untuk digunakan sebagai tempat burung Walet membuat sarang. Katanya, sepanjang jalanan baru ini memang sangat strategis untuk itu. Di depan ruko itulah biasanya akan ramai dihampiri beberapa kelompok remaja. Tak ada yang mereka lakukan. Hanya memarkirkan kendaraannya lalu mengobrol-ngobrol santai.

Satu alasan yang menurutku pasti mengapa jalan baru ini selalu menjadi rute untuk jalan-jalan sore, yaitu karena tidak ada polisi, baik yang melintas, operasi, atau pun berjaga di pos. Remaja-remaja yang belum mendapatkan Surat Izin Mengemudi pastilah senang dengan itu. Begitu juga dengan jalan-jalan yang lainnya.

Sore ini pikiranku sedang berada ditingkat paling jenuh. Aku jenuh dengan banyak hal. Terutama pada tradisi jalan-jalan sore dan pemikiran aneh kalangan remaja terhadap itu. Tapi, kupastikan lagi, lama-lama aku merasa kalau jenuhku saat ini sebenarnya muncul karena rasa gengsi.

Sudah tidak bisa kuhitung lagi, sudah berapa kali aku jalan-jalan sore dan melintasi jalan ini, kemudian mampir di salah satu pondok es kelapa yang biasa kami hampiri ini. Dan aku juga sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali sudah aku jalan-jalan sore dengan Roma. Rasanya aku seperti anak remaja yang tak punya banyak teman. Orang-orang hanya melihatku selalu berboncengan di sepeda motor dengannya. Sial, malah pernah ada yang menyebut kami berdua adalah sepasang homo.

Sebenarnya aku tidak selalu hanya jalan-jalan sore berdua dengannya. Seringkali ramai-ramai dengan teman-teman yang lainnya. Tapi memang, aku selalu berboncengan dengan Roma. Tidak pernah berganti. Itu karena yang punya sepeda motor adalah Roma. Aku tidak punya. Dan yang selalu bersedia memboncengku pun hanya dia. Memang itu bukan sepeda motor miliknya pribadi. Itu sepeda motor milik ayahnya. Aku merasa dia beruntung, ayahnya membolehkannya digunakan. Sedangkan ayahku, dia tidak akan membolehkanku. Aku masih kelas 3 SMP, memang belum waktunya untuk mengendarai kendaraan di jalanan.

Sebenarnya, Roma juga masih kelas 3 SMP. Dia adalah teman sekelasku. Begitu juga teman-temanku saat jalan-jalan sore yang lainnya. Semuanya masih SMP. Tapi mereka selalu diperbolehkan membawa sepeda motor milik orang tua mereka. Itu membuatku iri hati.

“Kau lebih banyak diam hari ini. Saat di sekolah tadi kau juga tak banyak bertingkah gila seperti biasanya. Ada apa, kawan?”.

Kusedot es kelapaku dan menyendok pecahan-pecahan daging kelapanya ke mulutku. “Aku bosan dengan becak”. Jawabku.

“Becak? Maksudmu, kau menganggapku tukang becak, karena aku selalu memboncengmu?”.

Aku tertawa ringan. “Bodoh. Apa aku terlihat menganggapmu seperti tukang becak?”.

“Mana kutahu. Yang kudengar kau hanya mengatakan bosan dengan becak. Dan aku adalah orang yang selalu memboncengmu. Jadi pantaslah kupikir kau menyebutku tukang becak”.

Roma menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya. Dia duduk di kursi yang berada tepat di depan mejaku. Dia melahap satu pisang goreng yang dia ambil dari piring di atas meja. Dia memesan camilan itu saat sebelum menghampiriku.

“Kau tahu aku selalu berangkat dan pulang sekolah naik becak. Aku bosan dengan itu. Aku ingin sepertimu dan teman-teman yang lain. Membawa sepeda motor sendiri”.

“Kalau tidak bisa buat apa kau paksakan”. Roma menjawab santai.

“Aku mulai malu”.

Roma tiba-tiba tertawa. “Kau harusnya malu kalau kau jalan kaki”. 


Aku mengacuhkannya. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu aku selalu memimpikan punya sepeda motor sendiri. Jika betul, aku pasti bisa berangkat dan pulang sekolah dengan sepeda motorku itu. Lalu jalan-jalan sore tanpa harus dijemput dan dibonceng oleh Roma lagi. Aku pasti bisa memilih sendiri teman yang ingin kubonceng. Sepeda motor adalah alasan kejenuhanku dan rasa gengsiku.

Pada hari sebelumnya, aku sudah mengungkapkan impianku itu pada ibuku. Saat itu dia sedang sibuk memasak untuk makan malam. Aku menghampirinya ke dapur. Tingkahku yang mencla-mencle terbaca olehnya. Ibuku tahu betul bila tingkahku sudah terlihat begitu pasti aku sedang ingin meminta sesuatu darinya. Dia menyuruhku berhenti berbasa-basi. Kuungkapkan sebetul-betulnya keinginanku. Namun, ah, tegas dia menolakku dengan jawabannya yang terkesan didramatisir.

Roma terbahak-bahak. Aku menceritakan tentang jawaban ibuku saat meminta dibelikan sepeda motor. “Aku setuju dengan ibumu. Kau meminta kucing bertanduk darinya”.

Aku kesal. Kuajak Roma pulang dan menyudahi jalan-jalan sore ini.



...

 

Setelah sore itu, Roma tak berhenti membuatku kesal. Semua teman-teman di sekolahku menyebut “Kucing Bertanduk” jika menyebut sepeda motor padaku. Itu sudah pasti gara-gara Roma. Dia menceritakan ke semua orang tentang jawaban ibuku saat aku meminta dibelikan sepeda motor. Sebenarnya, aku pun tak habis pikir. Ibuku memberikan jawaban dengan perumpamaan yang sangat mustahil terjadi. Meminta dibelikan sepeda motor sama artinya meminta Kucing bertanduk. Semustahil itukah permintaanku?

Selama berhari- hari sebutan kucing bertanduk terus mengiang di telingaku. Teman-temanku terkesan sangat mengejekku bila mengatakan itu. Dari pada menyiksa diriku sendiri dengan memendam amarah, maka kuanggap juga olok-olokan mereka adalah hal yang lucu. Aku akan tertawa bila mereka tertawa.
 

Pikiranku akhirnya luput dari keinginan memiliki sepeda motor. Aku tidak lagi memimpikannya. Sebutan kucing bertanduk pun mulai hilang satu persatu dari mulut teman-temanku. Kupikir memang begitulah cara terbaik menghilangkan ejekan orang lain kepada kita. Nikmati saja. Mereka akan bosan bila kita tidak marah.

Pada Minggu pagi. Aku sedang asik menonton TV. Menonton serial kartun kesukaanku. Menonton TV di Minggu pagi bukanlah keharusan yang kujalani karena tayangan-tayangannya yang menarik. Tapi kegiatan itu kulakukan karena bisa membantuku menghilangkan pikiranku tentang rasa lapar di pagi hari. Entah mengapa, ibuku selalu lama sekali memasaknya saat Minggu pagi. Jam sarapan yang seharusnya dilaksanakan jam 7 sampai jam 9 pagi, berubah menjadi jam 11 atau setengah 12 siang.

Ketika ibuku selesai memasak, aku segera makan. Tak peduli lagi dengan tayangan-tayangan menarik di TV. Aku pasti langsung meninggalkannya dan menyerbu meja makan. Banyak orang jadi brutal ketika lapar. Begitu pulalah aku.

Sedang asik menikmati makan, ayahku tiba-tiba datang entah dari mana. “Gimana? Ayolah, berangkat”. Aku menatapnya bingung.

Selesai makan, aku diminta segera mandi dan bersiap-siap pergi. Aku melakukannya walaupun aku tak tahu hendak diajak kemana. Kulihat ibuku juga bersiap-siap untuk pergi. Ketika selesai aku lalu pergi lebih dulu bersama ayahku, dengan sepeda motornya. Ibuku menyusul belakangan karena ingin mampir dulu ke suatu tempat katanya. Dia pergi naik becak.

Aku dan ayahku tiba di suatu tempat. Tempat yang membuatku spontan berkhayal. Ingin rasanya kutampar pipiku sendiri agar sadar, tapi jelas itu berlebihan nampaknya. Maka, dengan tangan khayalan kutampar sendiri pikiran bodohku.

Kami berdua sedang berada di sebuah dealer sepeda motor. “Mari kita lihat ke belakang, pak”. Seorang karyawan dealer itu mengajak ayahku agar mengikutinya. Ayahku mengajakku juga.

Mataku terpaku ke salah satu sepeda motor. Joknya masih berlapis plastik bening. Bodynya sedikit berdebu. Aku memegang-megang setang dan semua bagian lainnya. Nampaknya bapakku ingin berganti sepeda motor lagi, pikirku. Dia memang sering gonti-ganti sepeda motor.

“Udah dapat belum?”. Ibuku menepuk bahuku dari belakang. Aku kaget. Aku teringat kalau dia memang akan menyusul. Tapi, aku tiba-tiba bingung.

“Dapat apanya mak?”

“Pilih untukmu”.
 

Tidak, ini pasti mimpi. Ah, bukan, ini nyata. Aku setengah tak percaya. Dalam hati aku merasa geli sendiri. Agak lama aku menatap wajah ibuku yang sok tenang, sambil mulutku senyum kegirangan. Dia berusaha tak menatapku. Aku tahu dia pasti tak ingin ikut tersenyum. Mungkin menjaga wibawanya. 

Ini hari ulang tahun tahunku. Ternyata ibuku memilih hari yang tepat untuk mengabulkan permintaanku. Tak kusangka, hal yang kupikir benar-benar mustahil itu ternyata terjadi juga.

“Di hari ulang tahunku, mamak membuat Kucing bertanduk”. Bisikku di telinganya. Dia akhirnya tersenyum juga.

Minggu, 28 Agustus 2016

Cerpen: Terimakasih Tohir Dan Muji

Sumber Gambar: Supriyadikaranganyar.wordpress.com

Matahari masih berada di titik lima belas derajat sebelah Timur. Pagi yang cerah menyelimuti seluruh kota. Panas yang terasa masih cukup sehat untuk diserap tubuh. Tapi tidak benar-benar menyehatkan bagi Tohir dan seorang temannya.
Rabu pagi. Ini sudah memasuki bulan ketiga Tohir bersekolah di sekolah barunya. Dengan sangat bangga, dia lulus tes tertulis masuk salah satu SMP Negeri yang ada di kota itu. Kota kelahirannya. Sebuah kota kabupaten yang ada di pulau Sumatera.

Senam pagi baru saja selesai di laksanakan. Semua murid sudah memasuki kelasnya masing-masing. Halaman dan lapangan sekolah tampak lengang. Para guru juga sudah mulai melaksanakan tugasnya masing-masing. 

Senam pagi adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan sebelum memasuki kelas dan memulai pembelajaran. Dilaksanakan setiap hari selasa hingga sabtu. Senin adalah hari khusus pelaksanaan upacara bendera. Tak ada yang tahu, apakah semua sekolah yang ada di kota itu atau di negeri ini, juga melaksanakan kegiatan rutin seperti itu. Dan entah mengapa, para murid yang sudah berseragam rapih dan bersih malah harus melaksanakan senam. Keringat dan lelah pastilah menyelimuti seluruh tubuh mereka.

“Pasti selalu ada hukuman untuk murid yang terlambat masuk kelas dan yang tidak masuk sekolah tanpa kabar”, Tohir berseru kesal. 

“Terus, kenapa???”, Teman semejanya menyaut. Dia adalah Muji. Tohir baru mengenal Muji di sekolah itu. Kebetulan, mereka menjadi teman sekelas. Dan kebetulan juga mereka mendapatkan meja yang sama. Meja yang dihindari semua murid saat itu. Meja terdepan. Satu-satunya meja yang tersisa saat hari pertama masuk sekolah.

“Harusnya guru juga begitu. Mereka juga harus mendapatkan hukuman jika melakukan hal yang sama. Ini tak adil namanya”. Muji menoleh dan memutar badannya ke kiri. Melepaskan kesibukannya yang sedari tadi asik menggambar-gambar buku tulisnya. Dia menatap Tohir yang nampak lesu. Sedang menopang kepalanya dengan tangan di atas meja.

“Heehh… Kau itu anak siapa? Apa kau berani menuntut keadilan? Apa kau berani menghukum mereka para orang tua? Sudahlah, kerjamu menghayal terus dari tadi. Omonganmu terbang kemana-mana. Kalau pelajaran kosong begini kan bagus. Kita bisa melakukan apa saja”. 

Pagi itu, kelas Tohir dan Muji harusnya diisi kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Sudah hampir setengah jam sang guru tidak juga masuk ke kelas mereka. Sang ketua kelas yang harusnya melaporkan hal itu kepada guru yang bertugas di ruang piket malah urung melakukannya. Para murid yang lainnya menahannya agar tak keluar kelas.

“Aku bosan. Bingung mau melakukan apa”. Tohir berseru lagi. 

“Kalau begitu kau berhenti saja sekolah. Cari kerja, lalu menikah”. Muji lanjut menggambar buku tulisnya.

“Gila.. Aku bukan bosan sekolah. Aku hanya bosan dengan hari ini”.

“Biasanya kau senang mengganggu si Wiwit ke mejanya. Kenapa tak kau lakukan saja lagi. Menghilangkan bosanmu”.

Tohir mengubah pandangannya pada murid perempuan itu. Wiwit. Berada sekitar tiga meter jarak duduknya dari posisi meja Tohir dan Muji. “Enggak. Aku sedang tidak mau cedera hari ini. Setiap kali aku menghampirinya, dia berubah menjadi Singa. Mencakar habis tubuhku yang dapat diraihnya. Kemarin, saku bajuku robek dibuatnya”.

“Hahaha.. Hey Tohir. Wajar saja dia begitu. Yang kau lakukan hampir setiap hari hanya membuatnya risih dan marah. Kalau kau suka padanya harusnya tak begitu”. Muji tertawa geli. Dia menutup buku tulisnya dan memutar lagi badannya menghadap Tohir.

“Hey.. Umurmu sudah berapa tahun memangnya? Lagakmu seperti lebih tua saja. Sok tahu segalanya”. Tohir menyaut ketus. Dia masih bertingkah lesu.

“Santai boss..”. Muji masih tertawa. “Apa mau kutunjukkan caranya merayu wanita?”. Muji menggerakkan alis matanya naik turun. Menggoda Tohir yang murung.

“Mau enggak?”. Muji bertanya tegas. 

“Gimana?”.

Suasana kelas mulai tampak ricuh dan terdengar berisik. Para murid bertingkah macam-macam. Seperti sedang pesta perayaan. Mereka merayakan ketidakhadiran sang guru dengan meriah.

Muji memutar lagi posisi badannya. Kali ini dia menghadap ke meja yang ada di belakangnya. Di meja itu ada dua orang murid wanita yang menempatinya. Muji menghadap pada murid wanita yang berada tepat dibelakangnya. 

“Eva..!”. Muji memanggil lembut nama murid wanita itu. Tohir sedang memperhatikan.

“Eva lagi ngapain itu dek?”. Muji masih bertingkah lembut. Kasihan, Eva tak membalas kelembutan Muji. Eva memasang raut wajah jijiknya. Tohir tertawa.

“Diamlah, Muji. Wajahmu itu bikin aku geli”, Eva menyaut ketus.

“Hey, kau malah menghina wajahku. Apa kau pikir wajahmu rupawan?”. Muji membalas kesal.

“Sudah.. Sudah.. Kau gagal Muji. Coba lain kali saja”. Tohir berusaha menenangkan. Sambil tertawa dia memutar tubuh Muji agar kembali menghadap ke depan. Meninggalkan Eva yang tampaknya semakin jijik. 

Muji gagal dengan percontohannya. Tapi dia berhasil dengan satu hal. Mengubah raut wajah murung Tohir menjadi ceria. Tohir masih menertawakan kesombongan dan kegagalan Muji. Muji hanya diam dan mengambil lagi buku tulis yang tadinya dia buat untuk menggambar dari laci meja. Dia menggambar lagi.

“Kau boleh berhenti tertawa kalau sudah tidak lucu. Jangan berusaha mengejekku”. Muji mencoba menghentikan tawa Tohir.

“Oke boss.. Aku berhenti”. Tohir mengelus-elus punggung Muji. Mereka diam sejenak.

“Hey, Muji. Beberapa hari ini ada saja murid wanita dari kelas sebelah yang memanggil-manggilku dari jendela kelas mereka. Setelah itu mereka menyembunyikan wajahnya di balik tembok kelasnya. Terkadang mereka menggodaku. Aku tak menghiraukannya”. Tohir tiba-tiba berseru.

“Tohir, kau ini janganlah sok ganteng. Mungkin saja mereka bukan menujukannya padamu. Mungkin pada orang yang ada di dekatmu. Atau mungkin saja aku”. 

“Kalau itu tertuju padamu aku tidak percaya. Wajahku lebih baik dari pada wajahmu. Mereka tidak mungkin salah melihat, Muji”. Tohir kembali tertawa.  

“Sial, kau ini sama saja dengan wanita gila yang di belakangku”.

“Hey, Muji. Aku mendengar omonganmu”. Eva menyaut keras dari belakang.

“Aku tak peduli”. Muji menjawab kesal.

“Aku jadi khawatir akan ada baku hantam setelah ini”. Tohir menyela dengan sedikit tawa.

“Jangan bodoh Tohir. Aku tak mungkin melawan wanita”.

“Apa kau pikir aku takut padamu, Muji?”. Eva kembali menyaut. Dia mendengar perkataan Muji. Wanita yang satu ini memang murid wanita yang sangat tomboy di kelas mereka. Tampaknya Muji memang salah telah menggodanya.

“Mungkin, khusus untuk wanita yang di belakangku ini, aku buat pengecualian. Akan kuhajar dia kalau sekali lagi menyautku”. Muji mengucap pelan pada Tohir. Dia mulai terlihat marah. 

“Hahaha.. Tenanglah. Kalau begitu kita lebih baik menjauh darinya. Ayo kita keluar kelas. Sekalian, kita buktikan omonganku”. Tohir menarik tubuh Muji agar berdiri dan berjalan meninggalkan meja mereka. Mereka menuju pintu. Keluar kelas.

Tohir dan Muji berdiri berdua di depan pintu kelas. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada sebuah jendela kelas yang berada tepat di sebelah kelas mereka. Itu adalah ruangan kelas dua.

Mereka mengangkat kepala dan memanjangkan leher. Berusaha melihat wajah wanita yang duduk di sebelah jendela kelas itu. Tak ada satu pun murid wanita yang duduk di sebelah jendela.

“Aku rasa kau mengigau beberapa hari ini Tohir. Mana mungkin kakak kelas menggoda anak bawang sepertimu. Dan lihat, tak ada murid wanita yang duduk di sebelah jendela”.

“Kalau aku anak bawang, kau anak apa? Anak ketumbar?”. Tohir berhenti melihat. Tohir jongkok dan bersandar di pilar penyangga bangunan atap kelasnya. “Mungkin bukan sekarang waktunya. Aku selalu mendengar panggilan mereka ketika jam istirahat”. 

Tohir dan Muji lantas asyik mengobrol di depan kelas. Tohir masih pada posisinya, dan Muji duduk di depan Tohir. Menghadap arah yang berbeda. Halaman depan sekolah terpampang luas di depan mereka.

Jam pelajaran Bahasa Indonesia yang kosong harusnya terlaksana selama dua jam mata pelajaran. Masih tersisa waktu satu jam lebih untuk menunggu waktu istirahat pertama tiba.

“Hey, kalian, kemari..!”. Tiba-tiba, suara seorang pria tua terdengar keras memanggil. Tohir dan Muji terlihat gugup dan bingung. Sadar sedang melakukan kesalahan. Mereka perlahan berdiri sambil terus melihat ke arah suara itu. Rasa takut membuat mereka melangkah pelan dan saling dorong.

“Cepat sedikit..!”. Pria tua itu berteriak lagi. Membuat Tohir dan Muji mempercepat langkahnya.

Tohir dan Muji sudah berdiri di hadapan si pria tua. Dia adalah salah seorang guru yang kebetulan bertugas menjaga ruangan piket. Pria tua itu diam sejenak sambil menatap Tohir dan Muji yang berdiri sambil menundukkan kepala di hadapannya.
“Sedang apa kalian berdua di luar itu? Kenapa tidak di dalam kelas? Inikan masih jam pelajaran”. 

“Emm.. Emm.. Membersihkan sampah pak!”. Tohir menjawab pelan. Tubuhnya sedikit bergetar ketakutan. Dia khawatir si pria tua itu akan menghukum mereka.
“Apa guru kalian tak ada?”. Tohir dan Muji mengangguk. “Kalau begitu bagus. Mari ikut saya..”.

Mereka berjalan mengikuti langkah si pria tua. Di belakangnya. Keduanya saling pukul dan menjitak. Mereka saling menyalahkan. Tohir dan Muji menebak-nebak akan dibawa kemana mereka. 

Dan sampailah mereka. “Ini, silakan dipegang dulu. Masing-masing pegang satu”. Muji menatap bingung. Matanya berpindah-pindah, dari wajah Tohir lompat ke wajah si pria tua. Tohir menerima dengan pasrah benda yang diberikan si pria tua itu padanya. Dia menebak sesuatu di pikirannya.

Tohir dan Muji berdiri bersebelahan di depan pintu gudang sekolah. Mengarah kedalamnya, dan menerima sapu ijuk/lidi dan sekop sampah dari si pria tua yang berada di dalam. 

“Saya tahu, kalian berdua adalah anak yang rajin. Saya minta kalian bersihkan sampah dedaunan pohon-pohon yang ada di pinggir lapangan. Silakan berhenti jika bel jam istirahat berbunyi”. Pria tua itu menutup perintahnya dengan tersenyum. Itu bukanlah senyum yang ramah. Jawaban Tohir 'membersihkan sampah' nampaknya menambah masalah bagi mereka berdua.

“Oh, Tuhan. Seenaknya saja orangtua itu. Kau lihat Tohir, luasnya lapangan ini seratus kali lipat luas halaman rumahku. Aku mungkin sudah pingsan duluan sebelum sempat membersihkan seperempatnya”. Muji mengeluh kesal. Mereka berjalan menuju pohon pertama di sisi timur.

“Kenapa kau mengeluh padaku? Sana, mengeluhlah pada orang tua itu”.

“Ini semua karenamu Tohir. Aku takkan mengalami ini jika tak mengikutimu keluar kelas”. 

“Seenaknya saja kau bicara”. Tohir menyela. 

“Ini juga gara-gara wanita gila itu”. 

Tohir tertawa. “Kau menyalahkan semua orang”.

Sementara Tohir dan Muji melaksanakan tugasnya di lapangan. Di kelas mereka berdua telah masuk seorang guru pengganti. Mengisi kekosongan karena ketidakhadiran sang guru Bahasa Indonesia. Teman-teman di kelas mereka tahu, kalau guru pengganti itu masuk karena ulah Tohir dan Muji. Tapi mereka tidak tahu, kalau keduanya sedang bersusah-susah membersihkan lapangan sekolah.

“ Oh, Tuhan. Kenapa aku harus mengikuti perintah si orang tua itu. Ibuku bahkan tak pernah memintaku menyapu kamarku”. Muji semakin menggerutu. Dia mulai menyapu sampah dedaunan yang berada tepat di bawah pohon.

“Baik sekali ibumu. Ibuku membuatku bisa melakukan segala hal. Terkecuali memasak”.

“Kau memang berbakat jadi pembantu”. Muji tertawa. Tohir melemparnya dengan tumpukan sampah yang telah terkumpul.

“Hey..!! Jangan  bercanda”. Suara pria tua itu berteriak keras ke arah mereka, dari pintu ruang piket.

“Kau tahu Muji, dia mengawasi kita layaknya kita berdua adalah tahanan”.

Pukul 09.40. Bel jam istirahat pertama telah berbunyi. Seragam Tohir dan Muji kuyup oleh keringat. Mereka selesai dengan tugasnya. Lapangan sekolah bersih dari sampah. Tapi, sekolah tak sedikit pun berterimakasih atas kerja keras mereka berdua.